Ini bukan cerita fiksi, namun kisah nyata yang ku alami.
Aku melalui masa-masa sekolahku dengan getir getir serta pahitnya rasa dihina karena aku tak secantik mereka.
Aku tergolong gadis yang cerdas dalam akademik terutama bidang seni rupa, matematika, dan komputer di kelas. Terkadang ada tekanan di dalam diriku, aku enggan bertemu kawan-kawanku di sekolah. Karena apa? Karena tidak ada temanku yang melihatku dari sisi akademik, mereka memilih-milih dalam bergaul. Mereka melihatku dari fisik, menyingkirkanku di saat bergaul namun mencariku di saat tak bisa mengerjakan matematika, desain grafis dan pemrograman web komputer.
Pilu sekali rasanya, melihat kawan-kawan SMA ku dipuja puja banyak pria. Sedang aku, selalu ku terima panggilan dengan nama nama tak layak bahkan di samakan dengan hewan. Sakit? Jelas sakit hatiku, jika aku bisa membuat wujudku sendiri akupun ingin yang terbaik.
Aku dulu terlahir sama seperti mereka, namun karena kecelakaan bibirku harus menjadi tebal bekas luka. Saat SMP gigiku pun mengalami kelainan, ada pertumbuhan gigi yang tak semestinya. Gigiku menjadi renggang, namun di beberapa gigi mengalami gingsul sehingga membuatku menjadi TONGOS. Kulitku pun tak seputih dan semulus mereka. Aku harus mengayuh sepeda yang jauh untuk bersekolah, karena saat itu orang tua ku belum mampu membelikan sepeda motor semua uang di kerahkan untuk mengobati kakek dan nenekku.
Terkadang aku menangis di pangkuan ibu dan dalam sujud panjangku. Ibu selalu menenangkanku, berusaha menguatkan aku untuk tegar dan bersyukur bahwa aku masih bisa bernafas dan memiliki prestasi.
Hari-hari ku lalui dengan semangat dan syukur, pelan-pelan aku menjadi kuat menjadi terbiasa. Walau terkadang penat dan pilu masih menghampiri.
Lalu hidayah itu menyapa ketika aku kelas 12 SMA, aku mengikuti ekstra Kajian Islam. Dari situ Allah membuka jalan itu. Kubulatkan tekad mengenakan jilbab walau saat itu belum syar’i.
Hingga aku lulus SMA, aku mengambil study lanjutan di salah satu Universitas Negeri di Jawa Timur. Aku tetap berprestasi. Perlahan aku semakin mendalami Islam, mencintai dakwah dan benar benar menikmati tiap langkah ini. Dan akupun berhijrah mengenakan jilbab syar’i.
Aku sering mengeluhkan sakit pada gusi ku setiap menggosok gigi karena berdarah, mau tak mau aku harus menuruti saran dokter untuk behel gigi. Ya Rabb, aku takut Engkau Murka. Aku di landa galau yang luar biasa. Kutanyakan pada ustadzah dan beristikharah, bolehkah muslimah behel gigi untuk alasan kesehatan. Karena jika dibiarkan posisi gigi ku bisa menyebabkan infeksi. Dan kutemui jawaban untuk behel gigi.
Aku kembali mengalami ujian, kulitku menjadi sensitif dan gatal gatal merah. Sehingga mau tak mau aku harus mengobati nya dengan cream-cream dokter kulit yang halal..
Setelah itu ku rutinkan dalam merawat diri dengan cara-cara yang syar’i dan memelihara wudhu. Alhamdulillah sembuh..
Hari hari telah berlalu, bulan telah berlalu dan tahun berlalu.
Aku bertemu guru SMA ku yang saat itu juga suka mencibir fisikku, beliau kaget tak percaya, benarkah aku muridnya yang dulu?
Ya, banyak orang yang bilang aku berubah tak dikenali. Kurus, tongos , dengan rambut panjang , kulit kusam dan penampilan tomboy. Kini berubah, dengan penampilan syar’i dan fisik yang mereka bilang cantik. Aku bangga? Oh tidak, aku sadar ini titipan dan tak abadi. Allah bisa merubahnya sewaktu-waktu, karena aku pun telah mengalami perubahan luar biasa itu.
Kini aku benar-benar tau akan hikmah itu, aku ditempa dan Allah kuatkan iman dengan berbagai ujian dan cacian. Hingga Allah membuktikan kuasaNYA, tiada yang tak mungkin bagiNYA. Ketika perlahan-lahan aku berproses dalam hijrahku untuk taat padaNYA, disanalah perlahan Allah memberiku kejutan-kejutan ini. Kadang akupun masih sering menangis mengingat perubahan ini. Betapa sayangnya Allah padaku, Allah beri cara terindah untuk menguatkanku. Fisik yang dulu mereka bilang buruk rupa itu menjadi pengendali untuk tak mengenal cinta terlarang dalam bingkai pacaran, karena saat itu tak ada yang mau memacari gadis sepertiku. Akupun menemukan mana sahabat yang menyayangiku apa adanya. Aku mendapatkan pekerjaan dan rezeki-rezeki yang menilaiku dari prestasi bukan umbaran tubuh seksi. Aku semakin kuat dalam langkah dakwah ini. Sedikitpun tak tersisa benci dan dendam pada mereka yang memaki, hanya do’a untuk kebaikan mereka lah yang bisa ku beri.
Lalu apa yang menghalangimu untuk berjilbab syar’i? Apakah engkau takut tidak cantik lagi? Atau engkau berdalih kurangnya rezeki?
Allah yang maha mengatur segalanya, aku telah membuktikan sendiri keagungan Allah dan kuasanya. Kekuatan iman, perubahan fisik, dan bahkan aliran rezeki-rezeki serta kejutan cinta Allah yang luar biasa. Semakin kusembunyikan cantikku dari ajnabi maka Allahpun semakin mempercantik diriku. Masihkah engkau meragukan Allah? Meragukan aturan-aturanNYA?
Berhenti beralasan dulu, cobalah jalani, cobalah terus istiqomahkan diri dalam ketaatan. In syaa Allah kan kau temukan kejutan-kejutan cinta dari Allah yang luar biasa. :’)
SAUDARI yang mencintaimu.
Sumber : Peduli Jilbab
